Trip Bali Bali tidak hanya memikat wisatawan lewat pantai dan alam tropisnya, tetapi juga melalui beragam destinasi wisata sejarah yang sarat nilai budaya. Pulau Dewata menyimpan banyak situs bersejarah, mulai dari pura kuno hingga peninggalan kerajaan yang masih terjaga hingga kini.

Melalui wisata sejarah di Bali, kamu bisa menelusuri jejak masa lalu sekaligus memahami budaya lokal yang hidup berdampingan dengan kehidupan modern. Berikut lima destinasi wisata sejarah di Bali yang wajib kamu kunjungi saat liburan.

Tirta Gangga

Credit: Torch

Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem, membangun Tirta Gangga pada tahun 1948 sebagai taman air keluarga kerajaan. Wisata sejarah ini berlokasi di Desa Ababi, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali.

Pengunjung menyusuri area taman dengan berjalan di atas batu pijakan yang membelah kolam. Wisatawan menikmati patung, air mancur, dan panorama sawah hijau di sekitar taman. Pengelola juga menyediakan kolam renang bagi pengunjung yang ingin berenang.

Tirta Gangga mengusung arsitektur Hindu-Bali kuno dengan tata taman bertingkat. Mata air alami menyuplai air jernih ke menara setinggi 19 meter dan kolam-kolam batu berukir. Desain ini menciptakan suasana tenang dan sarat nilai sejarah.

The Blanco Renaissance Museum

Credit: Detik.com

The Blanco Renaissance Museum di Ubud, Bali, merupakan destinasi wisata sejarah yang menampilkan karya-karya pelukis Antonio Blanco, maestro seni yang menggabungkan gaya Eropa dan Bali dalam lukisannya. Museum ini tidak hanya berfungsi sebagai galeri seni, tetapi juga sebagai rumah pribadi dan studio kerja Blanco. Pengunjung bisa mendapatkan wawasan mendalam tentang kehidupan dan proses kreatif seorang seniman.

Pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas, seperti menjelajahi koleksi lukisan, serta menikmati pemandangan indah dari teras museum yang menghadap ke lembah Sungai Campuhan. Museum ini juga sering digunakan sebagai tempat untuk acara seni dan budaya, termasuk pameran temporer dan pertunjukan musik. 

Nama ‘Blanco Renaissance’ mencerminkan semangat kebangkitan dan kreativitas yang diusung oleh Antonio Blanco dalam karya-karyanya. Sama seperti pelukisnya yang eksentrik, arsitektur bangunan ini juga memadukan elemen tradisional Bali dengan gaya Eropa, menciptakan suasana yang harmonis dan inspiratif.  Museum ini terletak di Jalan Campuhan, Sayan, Ubud, Bali, sekitar 1,2km dari pusat Ubud. Wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum dari pusat Ubud.

Baca Juga: 9 Sudut Bali yang Bikin Kamu Pengen Healing Sejenak

Pura Besakih

Credit: SejarahBali.com

Umat Hindu Bali membangun Pura Besakih di lereng Gunung Agung sebagai kompleks pura terbesar dan paling suci di Bali. Kompleks ini mencakup Pura Penataran Agung Besakih sebagai pura utama dan 18 pura pendamping, termasuk Pura Basukian. Nama Besakih berasal dari bahasa Sanskerta wasuki atau Jawa Kuno basuki yang berarti selamat, serta merujuk pada mitologi Naga Basuki sebagai simbol keseimbangan alam semesta.

Masyarakat Hindu Bali menggunakan Pura Besakih sebagai pusat kegiatan keagamaan. Umat melaksanakan berbagai upacara seperti melaspas, ngaben, dan persembahyangan di pelinggih yang berbeda sesuai fungsi masing-masing. Setiap area pura mendukung jenis ritual tertentu berdasarkan tradisi keagamaan.

Wisatawan dapat menuju Pura Besakih dari Denpasar melalui Jalan Bypass Ngurah Rai dan Jalan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, lalu mengikuti penunjuk arah menuju kawasan pura. Pengelola menetapkan harga tiket masuk sekitar Rp60.000 per orang. Pengunjung wajib mengenakan pakaian sopan, menutup aurat, membawa air minum secukupnya, dan menjaga kebersihan area pura.

Desa Penglipuran

Credit: Detik.com

Desa Penglipuran di Bali adalah desa adat yang kaya akan sejarah dan budaya yang terletak di Kecamatan Bangli. Nama ‘Penglipuran’ berasal dari kata ‘Pengeling Pura’ yang berarti tempat suci untuk mengenang para leluhur

Wisatawan dapat berjalan kaki dan berkeliling menyusuri jalan utama desa yang teratur, mengunjungi rumah-rumah tradisional dengan arsitektur khas Bali, dan berinteraksi dengan penduduk setempat untuk memahami kehidupan sehari-hari mereka. Pengunjung juga dapat membeli kerajinan tangan sebagai oleh-oleh.

Untuk mencapai Desa Penglipuran, pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum dari Denpasar menuju Bangli, kemudian melanjutkan perjalanan ke desa. Jalan menuju desa sudah baik dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun empat. 

Taman Ujung

Credit: CNN Indonesia

Taman Ujung terletak di Desa Tumbu, Karangasem, Bali Timur. Dibangun pada awal abad ke-20 oleh Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem, taman ini menggabungkan arsitektur Bali dan Eropa, menciptakan suasana yang unik dan elegan.

Aktivitas utama di Taman Ujung meliputi eksplorasi area taman yang luas, berfoto di jembatan-jembatan yang menghubungkan kolam-kolam, serta menikmati pemandangan laut dan pegunungan yang memukau. Tempat ini juga sering digunakan sebagai lokasi pemotretan prewedding dan acara-acara khusus lainnya.

Baca Juga: Paket Honeymoon Bali 2 Hari 1 Malam

Untuk mencapai Taman Ujung, perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam dari Denpasar dengan mobil pribadi melalui Jalan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, dengan jarak tempuh sekitar 75km. Harga tiket masuk ke Taman Ujung adalah Rp 50.000 per orang. Taman ini buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 18.00 WITA. 

Tunggu apalagi? Hubungi Labiru Tour untuk pengalaman eksplorasi sejarah yang mempesona. Kami siap membawa Anda melintasi waktu melalui situs-situs bersejarah tersebut, dan tentunya akan dipandu oleh para ahli yang dapat memberikan insights kepada Anda.

Paket Wisata di Bali

Kami Memiliki Paket Wisata Menarik untuk Kunjungan di Bali